Cerpen "Cahaya dibalik Kesuraman"

Julie lahir pada bulan Julie, seperti kemarau pada bulan Julie, gersang. Tidak ada yang special dari dirinya, penampilannya, bakatnya, bahkan kepribadiannya. Tidak ada yang special di mata semua orang dari diri perempuan ini. Postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, kulit hitam kusam seperti arang sisa pembakaran. Rambut keriting yang menyerupai gimbal yang mengembang dan yang paling menonjol dari Julie adalah tubuhnya yang terlihat seperti kulit membungkus tulang. Maka tidak heran jika banyak orang yang bilang ketika melihat Julie berjalan seperti melihat tongkat bambu bergerak. Sangat berlebihan mungkin, tapi tidak lebih menyakitkan saat saudara perempuannya mengatakan Julie adalah anak autis. Memang, karena Julie juga terlahir dengan bibir yang tebal yang sering orang bilang memble. Kebiasaanya yang suka menyendiri di tempat-tempat sepi sambil mebaca buku-buku yang berbau dengan hal-hal mistik membuat Julie semakin terlihat aneh di hadapan semua orang.
Di dalam keluarganya Julie bukanlah anak yang di harapkan kelahirannya. Julie terlahir dari lima bersaudara yang semuanya perempuan dan cantik-cantik. Dari kelimanya hanya Julie yang terlahir sebagai anak cacat di mata orang-orang. Tapi orang tuanya selalu berusaha memperlakukan Julie sama seperti saudara-sudara perempuannya di hadapan semua orang karena tidak mau di anggap sebagai orang tua yang tidak memeperdulikan anaknya. Padahal setiap kali tidak ada orang lain, orang tua dan saudara-saudara perempuannya memperlakukan Julie seperti orang asing dan bahkan tidak di anggap sama sekali keberadaannya. Ini semua terjadi sejak Julie masih kecil dan Julie selalu diam dan tersenyum walau senyumnya tidak pernah di harapkan oleh semua orang, karena bibirnya terlalu mengganggu saat dia tersenyum. Orang-orang di sekitar pun memperlakukan Julie tidak jauh dengan orang tua Julie. Di saat-saat seperti inilah Julie selalu merasa sendiri. Julie hanya ingin diperlakukan normal, wajar, seperti orang-orang lainnya.
Julie sering menangisi kehidupannya seperti malam-malam kemarin dan malam ini. Dia menangis karena merasa malu akan keadaan fisiknya yang di mata orang tidak sempurna.
“Tuhan, maafkan aku. Aku menangis bukan karena tidak mensyukuri apa yang telah Engkau berikan. Aku hanya tidak mengerti dengan cara pandang orang-orang dalam menilaiku. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Tuhan, jawab aku.” Julie berkata sambil menangis di tengah malam.
Julie sering bermimpi ada sebuah tempat dimana semua orang menerimanya dan memperlakukannya dengan wajar. Tapi itu hanya mimpi, saat Julie bermimpi seperti itu dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata dalam hati tak kan pernah ada. Tapi sepertinya malam ini kata-kata itu tidak berarti pada diri Julie. Malam ini dia bertekat pergi mencari tempat itu saat semua orang tertidur. Padahal itu tidak ada bedanya walau dia pergi saat orang belum tetidur, karena tidak akan pernah ada yang memperhatikannya.
Saat Julie berjalan lumayan jauh dari rumahnya, bahkan dia sudah tidak tahu dengan jalan yang sekarang dia lewati, dia melihat sesosok bayangan di hadapannya berjalan dengan sempoyongan. Awalnya Julie hanya ingin berjalan tanpa memperdulikannya, tapi tiba-tiba bayangan itu berubah menjadi seorang pemuda yang wajahnya penuh dengan darah dan luka memar. Julie yang menyadari akan hal itu, langsung mendekati pamuda itu dan bermaksud ingin menolongnya. Saat Julie berusaha menolongnya, pemuda itu langsung beringsut hingga jatuh membentur tembok jalanan.
“Hei! Jangan sentuh aku! Pergi manusia asing!” Kata pemuda itu dengan keras sambil mengibaskan tangnnya di depan wajahnya sendiri.
“Maaf aku hanya ingin membantumu. Kau berdarah” Julie berkata lembut dan di sambut dengan tatapan jijik oleh pemuda itu.
“Hah! Kau ini manusia atau setan! Buruk sekali wajahmu.” Kata laki-laki itu yang terlihat umurnya tidak jauh berbeda dari Julie.
Julie membalas perkataan pemuda itu dengan senyum ramah. Karena terlalu sering Julie mendapat ketidak adilan seperti ini dari semua orang, terutama orang tuanya. Pemuda itu bersandar pada tembok jalanan dan Julie tetap tersenyum memandanginya.
“Aku tidak suka kau menatapku seperti itu! Pergi sana!” Bentak pemuda itu tanpa melihat Julie karena merasa diperhatikan.
“Kau akan butuh bantuanku.” Kata Julie tetap tersenyum dan berjongkok di hadapan pemuda yang hanya terdiam dan memegangi dadanya yang mungkin sakit.
“Baiklah kalau kau ingin membantuku. Bawa aku ke rumah kecil di ujung jalan ini. Cepat! Sebelum ada orang lain.” Kata pemuda itu sambil memegangi dadanya yang memang sakit.
“Julie.” Kata Julie memperkenalkan diri saat berusaha memapah pemuda itu.
“Seno.” Jawab pemuda itu singkat sambil berusaha berdiri dengan susah payah.
Julie tergopoh-gopoh memapah Seno menuju rumah yang Seno maksud. Agak jauh memang dari tempat mereka bertemu. Saat memasuki rumah yang yang ukurannya tidak terlalu besar, Julie terperanjat karena dia melihat tiga pemuda yang perawakannya sama dengan Seno tapi mungkin agak sedikit lebih dewasa. Tidak jauh dari pemuda-pemuda itu terlihat seorang wanita tua yang tergeletak lemas di atas ranjang kayu sepeti tidak terurus. Di dalam rumah sempit itu semua mata tertuju pada Julie. Julie tersenyum dengan perasaan yang selama ini dia rasakan saat tersenyum, malu. Seno melangkah dengan di papah oleh Julie.
“Bawa makhluk aneh dari mana kamu?” Tanya seorang pemuda menanyakan kehadiran Julie yang merupakan ucapan selamat datang buat Julie.
“Tadi aku bertemu di jalan setelah aku tertangkap oleh rentenir-rentenir gila itu.” Jawab seno sambil duduk.
“Sudah selarut ini mereka masih mengejar-ngejar kita? Benar-benar keterlaluan.” Pemuda yang lain menimpali dan memandang kearah wanita tua yamg tertidur lemah itu.
“Sudahlah, itu semua juga bukan kesalahan ibu. Ini semua berawal dari almarhum bapak yang suka main judi!” Kata seorang pemuda lain yang kelihatannya paling dewasa di antara ketiganya.
“Seno, maafkan ibu. Siapa gadis itu? Ibu mau berterimakasih karena sudah menolongmu.” Kata wanita tua itu dengan lemas.
Seno menceritakan semua yang di alaminya tadi mulai dari rentenir yang mengejarnya sampai akhirnya bertemu dengan Julie.
“Terima kasih, Nak. Kamu sudah mau menolong anak ibu. Siapa namamu? Dan mengapa sudah larut malam kau masih berkeliaran di jalan?” Tanya wanita tua itu dengan lembut.
“Saya Julie. Saya tersesat saat akan pulang ke rumah tadi sore.” Kata Julie berbohong.
“Oh, baiklah, sebagai ucapan terimakasih karena telah menolon seno, sudikah nak Julie menginap di rumah ibu yang sempit ini?” kata wanita tua.
“Ibu, apa-apaan ini. Untuk tidur berlima saja kita sudah harus menekuk kaki, ibu seenaknya mempersilahkan orang asing menginap.” Kata salah seorang pemuda dengan ketus.
“Sudahlah. Ayo, sudah larut malam, kita tidur.” Kata wanita tua itu mengakhiri.
Mereka berenam tidur di dalam rumah kecil itu dengan desak-dasekkan.
Keesokkan paginya, saat Julie terbangun, dia mendapati wanita tua itu sudah tidak ada di sampingnya. Julie langsung ke luar rumah mencari wanita tua itu.
“Eh, Julie sudah bangun. Bagaimana rasanya tidur berdesakdesakkan? Maaf ya nak?” sapa wanita tua ramah.
“Maaf, Bu. Saya semalam tidur nyenyak sekali sampai tidak merasakan apa-apa. Ibu sedang apa pagi-pagi di luar?” Tanya Julie.
“ibu sedang mencari udara pagi. Mumpung masih bersih,” kata wanita tua itu sanbil tersenyum.
Julie memandangi wanita tua itu dalam-dalam. Dia merasa wanita itu sedang sakit. Badannya kurus, guratan tua di wajahnya seakan mengambarkan kesengsaraan hidupnya.
Juli adalah orang yang memiliki rasa penasaran tinggi. Ia ingin tahu tentang wanita tua itu dan apa hubungannya dengan pemuda-pemuda di rumah itu.
“Ibu, maaf, kalo boleh tau apakah pemuda-pemuda di rumah itu adalah anak ibu?” Tanya Julie hati-hati.
“Ya, memang semua adalah anak ibu. Memangnya ada apa?” wanita tua itu tersenyum.
“Oh, tidak, hanya sekedar bertanya. Maaf jika saya tidak sopan.” Julie menunduk.
“Tidak, sama sekali tidak. Ibu malah senang jika ada yang mau mendengar cerita ibu.” Wanita tua itu tersenyum.
“Saya juga senang jika ada orang yang bercerita pada saya. Berarti orang itu percsya pada saya. Silahkah bu?” Julie tersenyum.
“Terimakasih nak Julie. Ini adalah beban yang selama ini ibu rasakan sendiri, karena tidak ada orang yang mau mendengarnya. Dulu saat suami ibu masih hidup, semuanya berjalan lancar. Tapi suatu hari, suami ibu terjebek dalam dunia perjudian, saat suami ibu kalah dalam perjudian, dia meminjam uang kepada siapa saja. Padahal ibu sudah melarangnya untuk berjudi tapi dia keras kepala. Sampai akhirnya semua dia gadaikan. Mulai dari tanah, rumah, sampai akhirnya anak-anaknya putus sekolah. Tapi itu sama sekali tidak membuatnya jera. Tidak cukup sampai di situ, dia mencuri sepeda motor…… dan disitulah semua berakhir dan berawal.” Wanita tua itu menangis.
“Suami ibu tewas saat di keroyok masa saat ketahuan akan mencuri sepeda motor. Tapi penderitaan ibu bukan cuma sampai di situ. Hutang suami ibu yang menumpuk, rentenir-rentenir yang datang setiap harinya menagih hutang. Ibu sudah tidak punya apa-apa lagi, akhirnya ibu terpaksa berpindah-pindah rumah saat itu. Ibu kasihan dengan anak-anak ibu, mereka harus merasakan ulah dari bapak mereka. Mereka tidak bias kerja dengan tetap karena mereka putus sekolah.” Wanita itu berhenti dan menarik nafas dalam-dalam.
“Dan sekarang, ibu sudah mulai sakit-sakitan, ibu sudah tidak bisa bekerja seperti dulu di pasar menjual kue-kue basah. Sampai akhirnya anak-anak ibu mulai menyalahkan ibu. Mereka sudah tidak peduli dengan keadaan ibu. Selama ini ibu sendirian dan jarang berinteraksi dengan anak kandung ibu sendiri. Di akhir usia ibu, cuma satu yang ibu inginkan. Ibu ingin merasakan kehangatan lagi dari anak-anak ibu. Cuma itu yang ibu inginkan.” Wanita tua itu menangis di pelulah Julie.
Julie yang sedari tadi diam, kini deneteskan air mata. Dia merasa iba dengan wanita yang ada di hadapannya, sekaligus dia teringat dengan nasibnya yang juga sama-sama tidak dianggap oleh keluarganya sendiri.
Sudah beberapa hari Julie berada di rumah kecil itu. Bukan karena Julie tidak ingin pulang, tapi selama dia berpamitan ingi pulang, wanita tua yang ternyata bernama bu Nur itu selalu mencegah Julie pulang. Lagi pula Julie merasa setelah tinggal di sana hudupnya lebih terasa berarti karena bu Nur selalu memperlakukan Julie seperti layaknya manusia normal yang selalu Julie impikan. Saat Julie menanyalakan mengapa bu Nur baik kepadannya, bu Nur hanya menjawab karena dia ingin memiliki anak perempuan dan dia senang sekaligus bersyukur karena merasa hidup kembali setalah bertemu dengan Julie. Perubahan juga bukan Cuma di rasakan oleh Julie dan bu Nur, anak laki-laki bu Nur juga lama kelamaan berubah menjadi sedia kala. Mereka tidak kasar dan acuh tak acuh, mereka kembali memperhatikan ibunya. Itu semua karena mereka senang melihat satu-satunya orang yang di cintai kembali tersenyum seperti dulu. Itu semua berkat Julie. Mereka juga mulai menerima keberadaan Julie, baik secara fisiknya yang cacat. Anak-anak bu Nur berubah ternyata karena tidak kuat melihat penderitaan ibunya selama ini.
Sudah hampir satu bulan Julie pergi dari rumah. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di rumahnya saat dia pergi. Ibunya sangat kehilangan Julie, sampai ibunya jatuh sakit karena merindukan anak bungsunya.
“Ayah, cepat cari Julie, ibu rindu dengan wajahnya saat dia tidur. Ibu salah telah menyia-nyiakan dia. Ibu baru sadar bahwa Julie lah semangat hidup ibu selama ini. Ibu baru menyadari, saat ibu tengah malam diam-diam memandang Julie tidur, perasaan yang aneh itu adalah kasih sayang ibu pada Julie. Ibu salah, Yah.” Ibu Julie menangis sesenggukan.
“iya, Bu. Ayah sudah berusaha mencari. Semoga saja hari ini Santi berhasil bertemu dengan Julie.” Ayah Julie berdo’a sambil mendo’akan Santi kakak Julie agar menemukan Julie.
Siang itu Julie di ajak oleh bu Nur bejualan kue-kue basah seperti dulu. Saat Julie menjajakan kue-kue itu, seseorang menepuk pundaknya dari belakang, Julie langsung menengok.
“Julie! Benarkah ini kamu? Akhirnya aku bertemu denganmu juga.” Santi langsung memeluk Julie yang terlihat masih kaget, “Ayo, kita pulang. Ibu sedang sakit karena merindukan kamu. Maafkan aku dan adik-adikku karena sudah menyia-nyiakan kamu selama ini sebagai adik bungsu. Kami bodoh karena baru menyadari kehadiran kamu setelah kamu pergi dan ibu sakit-sakitan.” Santi bercerita panjang lebar.
Julie masih terdiam dan bertanya pada dirinya sendiri benarkah semua itu? Sungguh ini tidak pernah terbayangkan oleh Julie sebelumnya. Tapi ia teringat dengan bu Nur dan anak-anaknya. Dia bingung harus melakukan apa. Pulang dan merasakan kebahagiaan yang selalu diimpikannya atau tetap membantu bu Nur dan anak-anaknya.
“Ya, aku akan pulang. Tapi kakak pulang dulu. Julie menyusul.” Kata Julie lembut.
“Baiklah, tapi berjanjilah untuk pulang. Ibu bisa mati kalau terus merasa bersalah dan kehilangan kamu.” Kata Santi sambil pergi meninggalkan Julie.
Sore harinya Julie pulang ke rumahnya tapi kali ini dia bersama Seno. Saat Julie bertemu dengan ibunya, Julie langsung di peluk ibunya yang langsung menangis. Julie ikut menangis di pelukkan ibunya, karena sekian lama dia tumbuh di samping ibunya, baru kali ini dia merasakan lagi pelukkan hangat dari ibu kandungnya itu. Julie mengajak Seno karna Julie bermaksud akan mengutarakan keinginannya kepada Ayahnya agar Ayahnya mau membantu keluarga Seno yang terlilit hutang rentenir. Ayahnya hanya tersenyum dan berkata,
“Ayah mengenalmu dari kecil walau hanya jarak jauh. Kau adalah anak yang baik dan suka membantu sesama yang sedang susah. Kau ibarat cahaya dibalik kesurama. Jiwamu bersinar walau ragamu tak semua orang bisa menerimanya. Termasuk keluargamu sendiri. Ayah atas nama semua yang telah meyianyiakannmu meminta maaf yang sedalam-dalamnya dari hati. Ayah bangga punya anak berhati cahaya sepertimu.” Kata Ayah Julie sambil memeluk anaknya dang dulu telah di sia-siakannya.
“Terimakasih Ayah, Julie sayang kalian semua.” Kata Julie sambil memeluk kakak-kakaknya yang juga menangis menyesal.
“Ayah akan bantu keluarga teman kamu yang terlilit hutang rentenir itu.” Kata Ayah Julie sambil memandang Julie yang sekarang sedang berada di pelukkan ibunya.
“Sekali lagi terimakasih Ayah. Yah, kalau boleh satu lagi Julie minta.” Julie berkata dengan pelan.
“Katakan lah, Ayah pasti penuhi semua keinginanmu. Sebagai ganti dari permintaan maaf Ayah. Walau mungkuin itu tidak sepadan dengan kesalahan Ayah.” Kata Ayah Julie.
“Ayah kan punya pabrik bahan bangunan, Julie ingin Seno dan kakak-kakaknya bekerja disana.” Bolehkah itu, Yah?” Julie bertanya dengan hati-hati.
“Oh, tentu saja boleh. Dengan senang hati, mulailah besok.” Kata Ayah Julie sambil tersenyum bangga dengan kebaikan hati anak bungsunya.
“Terimakasih Julie, hatimu sungguh mulia.” Kata Seno.
“Sama-sama. Kau dan kakak-kakakmu sudah ku anggap sebagai kakakku. Dan bu Nur adalah ibu ke duaku. Dia orang yang pertama mau menerima keadaanku. Aku sangat berterimakasih padanya.” Julie tersenyum manis. Senyum yang selama ini tidak pernah muncul dari bibirnya.
Sejak kejadin itu, hidup Julie menjadi lebih bahagia karena dia merasa diperlakukan sewajarnya oleh keluarganya dan orang-orang di sekitarnya.
“Tuhan, terimakasih kau telah berikan keadilanmu padaku. Aku akan selalu bersyukur atas apa yang telah Enkau berikan padaku.” Julie tersenyum bahagia dan bersyukur dalam do’anya.

0 Response to "Cerpen "Cahaya dibalik Kesuraman""